MocchiSpot: The Blog
Truths and Cries and Lies of a Boy, Fresh Served-
January 4th, 2009My MoviesBagaimana rasanya bila saat hidup kita sedang diatas angin, muncul sebuah surat yang tidak pernah kita harapkan datangnya, sebuah surat yang dapat mengubah hidup kita seratus delapan puluh derajat: Surat perintah wajib militer (draft)?
Itulah yang dialami tiga sahabat dekat, Aaron Feller (Elijah Wood), James Dixon (Jon Bernthal), dan George Rifkin (Chris Klein). Pada suatu masa, Pemerintah Amerika mengalami krisis militer dan terpaksa mengadakan kembali program draft, atau wajib militer; yang pertama sejak Perang Dunia kedua. Ketiga sahabat tersebut, secara kebetulan, terpanggil bersama-sama dalam draft. Disinilah cerita dimulai —mereka akan membuat keputusan terbesar dalam hidup mereka dalam waktu 30 hari sebelum hari penugasan: Day Zero.
Aaron adalah penulis yang sedang menulis novel keduanya ketika surat perintah wajib militer datang. Acuh karena putus asa dalam melanjutkan menulis, ia membuat daftar sepuluh hal yang harus ia lakukan sebelum melapor. Rifkin, seorang pengacara yang karirnya sedang naik daun dan sudah menikah, menolak untuk pergi karena baginya terlalu sulit untuk melepas hidup yang sudah susah payah dibangunnya. James, seorang supir taksi berperangai keras dan teguh pendirian, tadinya siap untuk mengabdi, berubah ketika ia bertemu dengan Patricia (Elizabeth Moss), yang membuatnya ragu karena ternyata membuat pilihan antara “ya” dan “tidak” ternyata tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.
Ceritanya kurang lebih tentang bagaimana cara ketiga sahabat itu masing-masing menjalani waktu 30 hari yang mereka miliki sebelum melapor. Secara keseluruhan film ini tergolong unik, sebuah film perang yang tidak memunculkan adegan tembak-menembak dan ledakan-ledakan granat. Atmosfirnya tenang dan sunyi —perang yang terjadi hanya perang batin yang terjadi di masing-masing karakter, dan semua itu dibuat sangat menyentuh. Dibalut dengan musik soundtrack lembut, perpaduan piano pelan dan orchestra yang calm —mengingatkan pada film World Trade Center— sangat pas dengan penyajian cerita, membuat film ini sajian yang tepat untuk malam hari.
Mungkin Day Zero bukan jenis film yang disukai semua orang dan hit di box-office, tapi Day Zero, film kecil dengan cerita yang menyentuh, cukup mempengaruhi saya untuk merekomendasikan film ini buat mereka yang butuh inspirasi.
Tags: day zero, draft, film, indonesia, perang, review, wajib militer -
Si Jago Merah: Jagoan!
Comments
December 18th, 2008My MoviesSepulang dari hari kosong yang semestinya diisi dengan remedial matematika (yang ditunda hingga besok) dan fisika, kita sekelas —dengan rencana dadakan, beranjak ke Empire BIP buat nonton —dengan keputusan dadakan, Si Jago Merah. Tapi meski semua serba mendadak, nggak ada rasa penyesalan dadakan (maksa) yang ngeganjel!
Film produksi Starvision ini bercerita tentang empat sahabat (dadakan), yaitu Gito Prawoto (Desta “Clubeighties”), Dede Rifai (Ringgo), Kuncoro Prasetyo (Ytonk “Clubeighties”), dan Rojak Panggabean (Judika) yang kebingungan mencari uang untuk melunasi biaya kuliah mereka yang menunggak dengan mencari pekerjaan-pekerjaan sampingan, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencoba menjadi pemadam kebakaran.
Film ini tergolong unik karena jarang sekali film-film Indonesia yang bertemakan kepahlawanan; yang dalam bidang ini: Pemadam Kebakaran.
Storyline-nya ringan tapi sangat berkesan. Tidak heran, karena tangan-tangan yang menggarap film ini adalah tangan-tangan yang melejitkan nama band The Changcuters lewat film The Tarix Jabrix, yaitu Iqbal Rais selaku sutradara, penulis cerita Fajar Nugros, penulis naskah Hilman Mutasi, dan co-produser Hanung Bramantyo.
Yah, pokoknya Si Jago Merah wajib masuk daftar film Indonesia paling top lah
Tags: bioskop, film, pemadam kebakaran, si jago merah
! -
Cloverfield? Supercool!
Comments
May 11th, 2008My MoviesBaru-baru ini saya beli 2 film di sebuah toko film: Lions for Lambs dan Cloverfield. Tapi dari kedua film itu, yang paling narik perhatian saya adalah yang kedua: Cloverfield.
Film ini keluaran Paramount Pictures, dan diproduksi ama J.J. Abrams (Mission Impossible), dan disutradarain ama Matt Reeves (28 Weeks Later).
Yang unik dari film ini adalah film ini disajiin dari sudut pandang korban-korbannya, dimana semua adegannya dishoot seolah-olah pake hand-held camera, jadi semuanya terkesan realistis; kayak kalo kamu nonton video liburan kamu yang dishoot pake handycam.
Film ini nyeritain tentang New York City yang diserang ama monster setinggi Monas sebesar Borobudur. Plot lengkapnya bisa kamu baca di Wikipedia Indonesia.
Saya rekomendasiin banget film ini buat yang suka ama Godzilla dan pencinta film-film action ato thriller. 77% dari para kritikus film di Rotten Tomatoes juga ngasih rating positif buat film ini, jadi kualitas film ini nggak usah diraguin lagi.
Tags: cloverfield, film, handycam, jj abrams, monster, new york

What You Are Saying